Kamis, 24 November 2011

Weasley again. =="


WEASLEEEEY!

Lily duduk di sofa merenungkan kejadian yang baru saja terjadi. Matanya masih sembap dan merah, tapi Lily berusaha menutupinya agar tidak ditanyai hal-hal aneh oleh saudara-saudaranya yang overprotective itu, terutama James. Tapi tetap saja dia walaupun dia mencoba menyembunyikannya, dia masih ditanyai macam-macam, dan Sirius dituduh yang tidak-tidak oleh saudara-saudaranya. Dari Teddy sampai Hugo, bahkan Ginny dan Hermione juga memandang galak kepada Sirius yang berarti Apa-Yang-Telah-Kau-Lakukan-Padanya.

Walaupun agak merinding saat mendapat tatapan seperti itu dari Victoire, Lucy, Ginny, dan Hermione, Sirius tetap bungkam karena masih ingin hidup dan tidak ingin dibunuh oleh cucu baptisnya yang menyeramkan itu sendiri. Tentu saja Molly dan Harry tidak luput mendapat pertanyaan aneh-aneh dari mereka semua karena mereka menghilang bersamaan dengan perginya Sirius dan Lily walaupun hanya berjarak beberapa menit. Tapi mereka juga bungkam karena tidak ingin ketahuan bahwa mereka tidak sengaja mendengarkan, atau lebih tepatnya menguping. Lily menggeleng-gelengkan kepalanya dan membuang jauh-jauh apa yang baru saja terjadi tadi, tetapi tetap saja ingatan itu kembali lagi. Lily menghela nafasnya.
 "Kau yakin kau baik-baik saja Lil's?" Teddy tiba-tiba menepuk bahu Lily sampai membuat Lily terlonjak.
 "Merlin, Teddy! Panggil aku dengan cara normal saja bisa kan?" kata Lily setengah kesal.
 "Maaf kalau begitu, kau yakin kau baik-baik saja?"
 "Untuk kesekian kalinya Teddy, aku baik-baik saja! Bukankah satu jawaban sudah cukup untukmu? Setahuku telingamu masih bekerja dengan normal" Kata Lily sarkastik.
 "Tentu saja kau tidak baik-baik saja Lil's, apakah kau ingin memberitahuku apa yang terjadi padamu?"
 "Er… tidak. Aku ingin menyimpan rahasia ini bersamaku sampai ke alam kubur"
 "Jeez… kalau begitu aku akan menghapusmu dari daftar Potter Faforit-ku. Sayang sekali, padahal kau mendapat peringkat paling atas" kata Teddy, berharap ini akan membuatnya berbicara.
 "Hei, tunggu! Kalau begitu aku saja yang mengisi peringkat atas!" kata James tiba-tiba sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
 "Pft, itu tidak akan terjadi James, aku adalah faforit Teddy setelah Lily, dan kau adalah yang paling terakhir" kata Albus yang dari tadi mendengarkan.

"Ck, ck, Al, sepertinya ada yang harus kuberitahu padamu sejak dulu. Maaf kalau menyinggung perasaanmu, tapi sebenarnya kau diadopsi oleh keluarga Potter karena kau adalah kelahiran muggle. Matamu dan warna rambutmu disihir oleh Mum dan Dad sesaat setelah kau diambil" kata James dengan suara yang dibuatnya agar terdengar sesedih mungkin.
 "Aku tidak— tidak kan?" kata Albus memandang Rose dengan pandangan antara ingin tahu dan memohon, membuat wajahnya terlihat lucu sehingga membuat Ginny terkikik.
 "Bagaimana yaaaa?" kata Rose jail.
 "Kau tidak akan mempercayai dia kan? seharusnya setelah 13 tahun hidup bersama James, seharusnya kau tahu bahwa kakakmu yang satu ini suka mengerjai orang" kata Lucy heran sambil menggelengkan kepalanya.
 Albus tersadar dari kebodohannya dan menatap James dengan geram. Bagaimana mungkin dia lupa bahwa kakaknya yang satu ini suka mengerjai semua orang yang pernah ditemuinya, kecuali Aurora, tentunya.
"Bukankah ini sudah waktunya untukmu untuk belajar menyayangi adikmu sendiri?" kata Albus kesal memandang James.
 "Dan bukankah ini sudah waktunya untukmu untuk kembali ke panti asuhan muggle?" balas James.
 Albus memutar bola matanya, Lily menghela nafasnya.
 "Sudah, kalian berdua!" bentak Molly, "Jangan bertengkar, sekarang ambil semprotan Doxycide-nya, dan tutup wajah kalian dengan masker yang ada di atas sofa"
 "Lily, Hugo, dears, kalian sebaiknya keluar, kali—
 Kata-kata Mrs. Weasley ditenggelamkan oleh suara protes Hugo dan Lily, yang bersikeras ingin ikut perang melawan Doxy bersama mereka semua, dan tidak ingin hanya menunggu diluar, alsannya adalah, karena tidak seru, tidak heboh, dan tidak menyenangkan.
 Jadi, ceritanya adalah, setelah Sirius dan Lily turun, mereka menemukan sekelompok pembasmi Doxy— salah satu hama rumah. Karena rumah Black sudah tidak bernah dibersihkan, jadi semua kotoran pastilah bersarang disana, salah satunya yaitu Doxy-Doxy yang sedang berkumpul di belakan gorden.
 Molly akhirnya menyerah dibawah tatapan memelas cucu-cucu masa depannya, yang menurutnya sangat lucu, apalagi mereka masih berumur 11 tahun.
 "Oh, baiklah kalau begitu, ambillah semprotan dan tutup wajah kalian dengan masker itu. Buku Lockhart mengatakan kalau taring Doxy beracun, dan aku sudah membuat ramuan penangkalnya, tapi aku lebih suka kalau tidak ada yang meminumnya" Dibagian terakhir ini, Molly sedikit tersenyum dan ada samar-samar rona pink dipipinya.
 Ron, Harry, Ginny, dan Hermione, yang yakin melihat rona itu walaupun agak samar-samar karena Molly belum memakai masker, mendengus, tetapi untuk Ginny dan Ron, mereka tidak mendengus, melainkan berlagak muntah sambil memunggungi Molly, yang untungnya hanya terlihat oleh James, Albus, Rose, dan Lucy, yang membuat mereka semua menyeringai.
 "Baiklah semuanya, begitu kuberi aba-aba, langsung semprot Doxycide-nya ke gorden-gorden terlebih dahulu, lalu mereka pasti akan menyebar. Begitu mereka menyebar, semprot semua, dan pastikan mereka benar-benar mati. Kalau Doxycide-nya kurang, ambil lagi diatas meja. Setelah kalian bunuh Doxy-Doxy itu, langsung buang mereka ke dalam ember, mengerti?" kata Molly sambil memasang maskernya.
 Semuanya mengangguk, menandakan mereka mengerti. James, Fred Jr., George, dan Fred menyeringai dan langsung kumpul untuk diskusi singkat apakah racun Doxy bisa digunakan untuk Kudapan Kabur yang masih setengah jadi.
 "Semua sudah pegang Doxycide? Semua siap? Baik, 1… 2… 3… SEMPROT!"
 Dalam sekejap udara langsung dipenuhi oleh cairan Doxycide yang sudah menyebar kemana-mana. Lily bekerja sama dengan Harry. Lily menyerang Doxy-Doxy itu dari belakang Harry, sementara Harry melindungi Lily dari Doxy-Doxy dewasa yang agak liar. Lantai juga sudah dipenuhi oleh Doxy-Doxy yang berjatuhan, tidak ada satu orang pun yang ingin menyentuh Doxy-Doxy itu sepertinya. Hanya Teddy yang cukup pintar untuk melevitasi selusin Doxy dan menaruh mereka ke dalam ember.
 "Fred, Apa yang kau lakukan! Semprot dan buang mereka!" kata Molly ditengah serangan Doxy-Doxy yang beterbangan.
 "Baik!" kata Fred ceria.
 Nada bicara seperti itu langsung membuat Harry menoleh kebelakang dan mengoper Lily kepada Ginny sementara Harry berjalan menuju Fred. Fred menyemprot Doxy itu hanya sampai pingsan, dan begitu Molly berpaling, Fred memasukkan Doxy itu kedalam saku celananya.
 "Kami berpikir untuk menggunakan racun Doxy untuk Kudapan Kabur" kata George, bergabung dengan Fred dan Harry.
 "Apa itu Kudapan Kabur?" tanya Harry dari sudut mulutnya, sambil berpura-pura membenarkan semprotannya.
 "Semacam permen, Nogat Mimisan, Pastiles muntah, dll. Yang bisa membuatmu sakit. Tidak sakit parah, tapi cukup parah sehingga kau bisa keluar kelas kalau kau mau. Tapi kami belum bisa membuat penangkalnya, sampai saat ini kelinci percobaan kami masih terus mimisan dan muntah-muntah dan harus menunggu cukup lama untuk berhenti"
 "Kelinci percobaan?" tanya Harry sambil menyerngit.
 "Kami sendiri" kata George.
 "Rupanya toko lelucon masih berlanjut?"
 "Yah, semua berkat kau, sobat" kata Fred nyengir dari dalam maskernya, tapi terlihat jelas. Harry juga ikut nyengir.
...
 Pembasmian Doxy sudah selesai, dan mereka semua lelah, Fred dan George sudah mengumpulkan cukup banyak Doxy untuk digunakan untuk percobaan. Para anggota Orde sudah berdatangan, tapi Dumbledore ada urusan lain, jadi sebagai gantinya Severus Snape mewakilinya, yang disambut dengan tatapan menyeramkan dari Rose dan Hugo.
 Semua anak Weasley sekarang berkumpul di kamar tempat Harry, Lily, dan Ginny tidur, menunggu pertemuan Orde selesai. Mereka berbicara mengenai banyak hal, membuat renacana onar yang sudah menghabiskan 1 gulung perkamen yang panjangnya sekitar 50-an centi, berbicara nilai-nilai di sekolah, yang sama sekali tidak ada nilai Accept kebawahnya, semuanya rata-rata mendapat Outstanding atau Exedees Exceptions, berbicara tentang kisah cinta masing-masing, berbicara tentang Quidditch, dan lain-lain.
 "Bagaimana kalu kita main Truth or Dare saja?" usul Lucy.
 "Ide bagus Lucy-Pitchy!" kata Fred.
 "Yeah, ayo!" kata Ron bersemangat.
 Mereka semua turun dari kasur dan duduk di lantai (yang sudah dibersihkan oleh Victoire dengan sekejap dan diberi karpet) membentuk lingkaran.
 "Tapi kita tidak punya botol, kalau memakai tongkat, takutnya nanti tongkat itu aktif, lalu—
 "Woah, santai Mum, kau penyihir atau tidak?" kata Rose, bangkit dari karpet, dan mentransfigurasi vas bunga yang mengerikan menjadi botol.
 "Oh, diamlah" kata Hermione setengah kesal setengah bangga.
 "Baiklah, siapa yang mulai pertama?" kata Lily.
 "Bagaimana kalau dari yang paling tua?" usul Harry.
 "Aku tidak tua, Harry!" protes Teddy.
Teddy mengambil botolnya dan meletakkannya dilantai, lalu diputarnya botol tersebut, dan... botol itu berhenti mengarah ke Hermione.
 "Hermy, Truth or Dare?"
 "Eh... Truth?"
 "Kenapa kau menerima ajakan Victor Krum saat di Pesta Dansa?" kata Teddy penuh selidik.
 Wajah Hermione memerah sedikit, lalu berkata, "Karena aku ingin membuat Ron cemburu"
 "Untuk apa kau melakukannya?" Ron memandang marah Hermione.
 "Agar kau menyadari persaanmu, tentu saja" kata Hermione berusaha membuat suaranya terdengar tenang.
 "Baiklah, Hermy, putar botolnya!" kata Teddy.
 Botol berputar, dan...
 "Fred, Truth or Dare?"
 "Dare, tentu saja!"
 "Pergi ke bawah, ke pertemuan Orde, dan teriak 'Dumbly mencintai Minnie' sekarang" kata Hermione, tersenyum jail, yang sangat jarang di lihat oleh semuanya.
 "Baiklah" kata Fred, tersenyum jail juga, dan matanya bercahaya, senang melihat Hermione bisa melakukan onar.
 "Tunggu! Bawa ini bersamamu" kata George, memberikan Telinga Terjulur ke Fred.
 Setelah memberikan Telinga Terjulur itu, Fred turun, sementara George membagikan 7 tali, 2 orang satu. Mereka mendengar Fred turun, Brak! Pintu terbuka, dan Fred berteriak "DUMBLY MENCINTAI MINNIE"
 Lalu Fred lari ke atas dengan suara dak dik duk yang keras, dan masuk dengan wajah gembira.
 "Bagaimana reaksi Minnie?" tanya James dengan semangat.
 "Aku tidak sempat melihat reaksi Minnie, tapi aku sempat melihat reaksi Mum" kata Fred ngos-ngosan.
 "Oh tidak, bagaimana reaksinya?" tanya Hermione khawatir. Dia lupa sama sekali kalau Mrs. Wealsey ada di bawah.
 "Kaget, kurasa, dan marah. Aku akan menyalahkanmu kalau aku sampai dimarahi oleh Mum" kata Fred dengan wajah tidak berdosa.
 "Oh tidak, aku akan mendapat masalah, aku akan dikeluarkan, oh tidak, oh tidak..." Hermione menggumamkan sesuatu tentang akan mendapat detensi selama 7 bulan.
 "Tenang Mum, itu tidak akan terjadi, putar botolnya Uncle Fred" kata Hugo.
 Fred memutar botolnya, dan berhenti mengarah ke Victoire.
 "Vicky, Truth or Dare?"
 "Jangan memanggilku Vicky! Er... Dare?" kata Victoire.
 "Aku akan menguncimu berdua dengan Teddy dan kalian tidak boleh melakukan apapun!" kata Fred jail.
 "Itu akan menjadi tugas yang berat" gumam Victoire.
 Teddy dan Victoire dikunci didalam kamar mandi oleh Fred. 15 menit kemudian, mereka keluar. Teddy dan Victoire tampak berantakan, dan muka keduanya merah.
 "Aku tidak bisa melakukannya, maaf uncle Fred" kata Victoire tanpa memandangnya, sementara Fred sudah terkikik-kikik.
 Victoire duduk dan memutar botolnya, yang mengarah ke Ginny.
 "Aunty, Truth or Dare?"
 "Eh... Truth"
 "Siapa cinta pertamamu?" tanya Victoire.
 "Pertanyaan bodoh" gumam Ginny dengan suara yang sangat kecil. 
"Apa?" kata Victoire.
 "Bukankah kau sudah tahu?" kata Ginny dengan nada suara yang tidak terlalu enak di dengar.
"Akan jauh lebih menyenangkan kalau kau mengucapkannya di depan orangnya" kata Victoire.
 "Ugh... baiklah, Harry" kata Ginny merona.
 "Uh... tapi kau bicara padaku" kata Harry.
"Lalu? Aku tidak bisa selamanya menjadi anak pemalu yang bahkan tidak cukup berani untuk mengucapkan 2 kata didepanmu kan?"
 "Kenapa kau tiba-tiba berubah? Apakah kau punya— oh!" Harry paham akan sesuatu.
 "Apa?" tanya Fred, George, dan Ron bersamaan.
 "Kau... punya pacar?" kata Harry.
 Ginny merona, menandakan 'iya'.
 "APA! kata Fred, George, dan Ron bersamaan, lagi.
 "Mum punya pacar? Selain Dad?" tanya Albus bingung.
 "Siapa?" tanya Lily.
 "Michel Corner" jawab Rose dan Hermione bersamaan, membuat keduanya saling pandang, memandang wajah geli masing-masing.
 "Mereka bertemu di Pesta Dansa tahun kemarin" kata Hermione.
 Fred, George, dan Ron menganga.
 "Oh, sudahlah, tutup mulut kalian" kata Ginny.
 Ginny meraih botolnya, dan dia memutarnya.
 "James, Truth or Dare?"
 "Dare! Sebagai Griffindor sejati, aku, dengan keberanian yang besar akan melakukan tugas seberat apapun" kata James sambil membusungkan dadanya.
 "Baiklah, sekarang aku ingin kau kebawah, ke pertemuan Orde, dan merubah warna rambut Nan-mu menjadi putih" kata Ginny tenang.
 Muka James, yang tadinya menyiratkan kebanggaan yang luar biasa, berubah menjadi muka yang penuh horor.
 "Jadi sekarang kau hanya bisa membual, eh? Sebagai Griffindor sejati, aku, dengan keberanian yang besar akan melakukan tugas seberat apapun" kata Ginny dengan suara yang dia buat mirip dengan James, sambil membusungkan dadaya.
 "Itu tidak adil!" protes James.
 "Kau yang minta" kata Ginny balik.
 "Aku masih ingin hidup!"
 "Mum tidak akan membunuhmu!"
 "Bagaimana kalau aku mati?"
 "Kau tidak akan mati!"
 "Yeah, tapi bagaimna kal—
 "James, Ginny, Stop!" kata Harry keras.
 "Ginny, berhenti memanas-manasinya. James, lakukan apa yang ibumu suruh kepadamu" kata Harry lagi.
 Semuanya tercengang, kecuali para Next Gen, tentu saja.
 "Woah, Harry, sejak kapan kau menjadi dewasa seperti itu, mate?" tanya Ron.
 "Er... baru saja" kata Harry malu.
 James menggerutu yang tidak-tidak. Lalu James mengambil sejumput serbuk pewarna rambut yang berwarna putih dari kamar Lily. James menggerutu tentang Aurora, nikah, belum punya anak, belum menjadi auror, belum menulis surat warisan, dan lain-lain. James menghela nafasnya dalam-dalam, dan dia hembuskan, mempersiapkan mental.
 "Kami ikut denganmu, James" kata Fred Jr.
 "Yeah, ayo liat reaksi Mum dengan mata kepala sendiri" kata Ron semangat.
 Lalu mereka semua turun kebawah dengan pelan-pelan. Begitu sudah mencapai pintu, mereka berhenti. James, dengan agak nekat langsung menjeblak masuk, lalu menaruh bubuk itu diatas Molly, lalu keluar lagi.
 Mereka menunggu, 10 detik... 20 detik... 30 detik... 40 detik... 50 detik... 60!
 "JAMES SIRIUS POTTER! KEHADAPANKU SEKARANG JUGA!" raung Molly.
 Tapi alih-alih pergi ke hadapan Molly, James lari ke atas sambil berteriak "Salahkan Mum!"
 "GINERVA WEASLEY!" teriak Molly lagi.
 "Maaf Mum!" kata Ginny sambil lari ke atas, disusul oleh semuanya.
 Sampai dikamar semuanya ngos-ngosan, tapi raut wajahnya memancarkan kegelian yang luar biasa. 1... 2... 3...
 "HAHAHAHAHAHAHA" ledak semua anak Weasley dan Potter.
 "Ta- tadi lucu se-sekali!" tawa Lucy sambil berguling-guling dan memukul kasur.
 "Kau lihat wajah Mum?" kata Ron tergelak-gelak.
 "Tidak pernah kulihat Mrs. Weasley semarah itu!" kata Hermione tersenyum lebar, tapi khawatir juga.
 "Molly akan membunuh Ginny!" kata Teddy tersenyum.
 "Oh sudahlah, jangan merusak kesenangan, James, turun dari kasur dan putar botolnya!" kata Ginny sambil mengelap air mata gelinya.
 James memutar botolnya, dan...
 "Dad, Truth or Dare?" kata James semangat.
 "Dare, kurasa" kata Harry, dan sedetik kemudian, di menyesali pilihannya karena James nyengir sangat lebar.
"Kecup Mum di dahinya!" kata James penuh semangat.
 "TUNGGU! Aku sama sekali tidak akan melakukannya!"
 "Geez... Teddy, confundus Dad!" kata James.
 "Kenapa tidak kau saja?" kata Teddy malas-malasan, memandang Ginny.
 "Malas"
 "Sama"
 "Rose!"
 "Tidak mau, Dad akan membunuhku!"
 "Fred!"
 "Bagaimana kalau tidak?" jawab Fred Jr.
 "Penghianat" gerutu James.
 "Baiklah, baiklah" kata Harry pasrah. Dia tidak ingin rumahnya menjadi medan perang hanya karena dia tidak ingin mengecup Ginny.
 "YAY!" kata James.
 "Cepat selesaikan" kata Ginny merah padam.
 Harry dan Ginny, yang duduknya berhadapan saling mendekat, lalu secepat angin, Harry mengecup Ginny tepat di dahinya dengan suara JEPRET!
"Suara apa itu?" kata James.
"Lihat!" kata Hugo, memandang kebelakan tubuh James.
 James berputar, begitu juga yang lain. Lalu mereka melihat Remus, Sirius, dan Molly berdiri di ambang pintu. Remus tampak shcok sekaligus senang, Molly terlihat terharu, dan Sirius, dengan tambahan kamera sihir ditangannya, tampak senang dan bangga.
 "Er... Sejak kapan kalian ada disitu?" kata Lily canggung.
 "Setelah James menaruh bubuk entah apa itu dirambut Molly, kami langsung naik ke sini" kata Remus.
 "Sejauh mana yang kalian dengar?" lata Albus merinding.
 "Kami tiba disini tepat saat Harry memilih dare. Lalu langsung kubuka pintu ini pelan-pelan, dan dengan non-verbal aku melakukan mantra panggil, kalian tahu, Accio. Lalu kusiapkan untuk memotret tampang Harry saat melakukan dare tersebut. Saat Harry mencium Ginny, kupotret" kata Sirius gembira, tidak menyadari hawa membunuh yang ada di depannya persis.
 "SIRIUS!" teriak Harry dan Ginny bersamaan.
 "Sirius, berikan kamera itu sekarang juga!" teriak Harry.
 "Tidak akan! Foto ini ingin kukirim ke Daily Prophet!" kata Sirius.
 "SIRIUS!" teriak Ginny, merampas kamera itu dari Sirius.
 "Sayang sekali, Aunty!" kata Victoire merampas kamera itu dari Ginny.
 "Vic!" teriak Ginny sambil mencoba mengambil kamera itu.
 Victoire, yang andal sebagai chaser, melempar kamera itu ke Albus, yang tak lain adalah seeker.
 "Al! Tangkap!" kata Victoire.
 Dan jadilah siang hari dihabiskan untuk lari-lari sekeliling Grimauld Place no. 12 untuk lempar tangkap kamera yang berisi foto memalukan. Bahkan Tonks juga dan Bill juga ikut. Walaupun ceroboh, Tonks tetap bisa lempar tangkap karena dulu saat dia masih di Hogwarts, dia bermain Quidditch sebagai chaser.
 Semua anggota Orde juga sudah melihat foto tersebut karena dipamerkan oleh Tonks, yang membuat para anggota Orde tertawa-tawa. Kalau dari samping, mereka terlihat seperti James sedang mengecup Lily soalnya.
 Dan semua permainan lempar tangkap itu berakhir dengan memotret foto seluruh keluarga Weasley dan Potter yang dipotret oleh Kingsley.
 "Baiklah semua, bilang setelah kuberi aba-aba, bilang Weasley!" kata Kingsley.
 "1... 2... 3..."
 "WEASLEEEEY!" teriak semuanya.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar